Oleh Jose Rizal
Martapura, (Antaranews Kalsel) - Kepala Badan Nasional
Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP3TKI) Gatot
Abdullah Mansyur meresmikan sentra wirausaha tenaga kerja Indonesia purna di
Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat.
Peresmian tempat
usaha mandiri bagi mantan TKI dihadiri Bupati Banjar Khairul Saleh dan istri,
anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Banjar dan undangan lain disaksikan
ratusan warga di Kecamatan Astambul itu.
"Peresmian
sentra wirausaha bagi TKI purna merupakan bagian dari program perlindungan
mantan TKI selain penempatan, setelah mereka pulang kembali ke tanah air,"
ujar Kepala BNP3TKI.
Ia mengatakan, mantan
TKI sudah seharusnya dibina sehingga mampu berusaha di kampung halaman baik
dengan modal sendiri maupun modal bantuan dari pemerintah pusat dan daerah
maupun perbankan.
"Banyak peluang
usaha yang bisa dijalankan TKI purna baik membuka usaha mandiri, mengolah
kekayaan alam maupun membuka pelayanan atau jasa bagi orang lain sehingga
mereka tidak pergi lagi," ungkapnya.
Bupati Banjar Khairul
Saleh sangat mendukung keberadaan sentra wira usaha bagi kelompok TKI purna
yang dikembangkan pada salah satu desa di kabupaten itu dan diharapkan mampu
meningkatkan ekonomi masyarakat.
"Kami sangat
mendukung sentra wirausaha bagi TKI purna karena menjadikan mereka memiliki
usaha mandiri setelah kembali ke daerah asal dan diharapkan mampu meningkatkan
kesejahteraannya," ujar.
Menurut dia,
keberadaan sentra wirausaha itu juga sebagai wujud pembinaan bagi eks TKI
sehingga mereka tidak menjadi beban akibat menganggur setelah pulang dari luar
negeri tempatnya bekerja.
"Sebagai bentuk
dukungan sentra wirausaha ini, pemkab menghibahkan empat buah toko yang
pengelolaannya diserahkan kepada kelompok TKI purna dibawah binaan BNP3TKI
Banjarbaru," ujar bupati.
Camat Astambul Gusti
Suryani mengatakan, jumlah warga desa yang pernah menjadi TKI kecamatan itu
mencapai 300 orang tersebar di dua desa yakni Desa Kelampayan Ulu dan Desa
Kelampayan Tengah.
"Jumlah TKI
purna pada dua desa itu memang cukup banyak mencapai 300 orang dan sepulangnya dari
luar negeri mereka rata-rata membuka usaha seperti berjualan di rumah,"
kata camat.
Sementara itu, sentra
wirausaha yang dijalankan TKI purna adalah menjual aksesoris perhiasan, produk
makanan dan minuman hingga menjual perlengkapan shalat seperti peci, sarung dan
pakaian.
Editor: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © 2014





